Selasa, 07 Juli 2015

Bermain Bersama Semesta - Part 3

Hallo mentari, selamat menampakkan diri dari ufuk timur mu! Sudah lelahkah kau bersembunyi dari kelamnya malam yang tak berbintang itu? Aku menantikan hangat sosok mu yang biasa menemani ku dengan sedikit pahitnya kopi susu. Yang selalu sedia mengantarkanku mencari tempat ku di dunia ini.

Seperti biasa aku menunggangi kuda besi menjelajah jarak untuk menopang hidupku, dan dimana aku biasa menyaksikanmu menyelimuti langit dengan sutra oranye yang begitu indah. Kau buat aku terpaku saat kau bentangkan sayap bercahaya yang mampu membuat seisi dunia hidup. Bahkan sang penghijau bumi telah menantikanmu dengan penuh harapan untuk dapat melahirkan butir-butir udara yang membuat seluruh sel bergerak penuhi semesta. Kau lah sumber kekuatan itu.

Hey, mau kah kau tetap temani aku? Aku tahu tak akan setiap saat kau hadir karna kau pun harus tertidur karena sebuah rotasi. Tapi, aku pinta jangan pernah lelah untuk menjadi energi yang abadi meski seisi dunia keluhkan kehadiranmu yang sangat membakar. Mereka hanya tak sadar bahwa yang mereka tahu hanya merindukan hujan, padahal hujan pun jatuh karena kau memanggang seisi lautan. Juga tiada pelangi indah yang mereka ceritakan bila kau tak biaskan sepercik cahayamu.

Dan selamat datang untuk musim panas! Aku sudah pesiapkan diri untuk mendapati diriku tersengat hawa dirimu yang akan sangat terasa. Dan jika aku beruntung maka aku akan dapatkan tempat berteduh. Bukan aku tidak mencintai cahayamu tapi terkadang itu menyiksa, hehe. Iya, menyiksa.

Kau buat langit kembali berselimutkan warna yang indah. Ya, ketika senja. Bagaimana violet menghiasi jendela biru yang membentangi dunia saat kau hendak pergi? Aku rasa kau memiliki seisi warna yang diingikan alam semesta. Benar bukan? Kau bisa sesukamu melukis warna warni indah dari kutub hingga ke garis khatulistiwa. Sungguh besar kuasa Tuhan menghadirkan dan membuatmu sebagai bintang abadi yang tak kunjung semu.

Mengagumimu adalah kehidupanku, Mentari !




Aku, si penikmat senja.



1 komentar:

  1. Cahayanya tak pernah menyiksa, tapi kadang kita yg merasa tersiksa... :")
    Musim hujan telah habis tak membawa kabar apapun tentang "Cinta" Mungkin pada takdir lain "Cinta" hanyalah hujan di sela musim panas.. Takpernah diharapkan, datang kemudian terabaaikan...

    BalasHapus