Selasa, 11 Agustus 2015

Bermain Bersama Semesta - Part 4

Aku, dataran yang hanya tercipta dari kepingan batu dan bekunya es. Begitu jauh dari kehangatan sang pemberi cahaya tata surya. Seakan aku merindu untuk berada di dekatnya. Tiada yang spesial dari diriku yang hanya bermassa tidak sepersen pun dari Bumi, yang terkenal dengan kehidupannya dan kaya akan manusia. Ya, manusia. Mereka pun yang menemukan aku dari bermilyar kilometer kejauhan. 

Aku menari pada orbit yang rupanya tidak sama dengan kedelapan kakak-kakakku. Menyedihkan memang menjadi saudara yang berbeda. Bahkan entah masihkan aku diingat bahwa aku pernah menjadi bagian dari keluarga mereka. Mimpiku selama jutaan tahun berjuang untuk menampakkan diri dan diakui oleh mereka manusia, terwujud walau hanya sesaat. Sesaat yang sungguh menyenangkan bisa menjadi bagian dari cerita pada buku-buku ilmiah.

Mungkin kenyataan ini tak sejauh mimpi yang aku idamkan untuk menjadi yang diakui seperti kedelapan saudaraku karena ukuran tubuhku dan sulit dideteksi. Bahkan aku tidak bisa mengalahkan dimensi Titan yang begitu mencintai Jupiter. Ya aku sadar bahwa Titan selalu menang walau derajatku berada di atasnya. Tidak luput juga ledekan dari Triton sang pendamping Neptune yang jaraknya tidak begitu jauh dariku. Ya aku akan selalu dikucilkan.

Pada sampai akhirnya para manusia di Bumi tega meremehkan aku. Di usia ku yang ke-76 tahun menghiasi ilmu pengetahuan, namaku seakan diambang duka dan dituliskan pada batu nissan. Begitukah tata surya menganggap aku? Mengapa sekejam itu? Itukah keadilan yang kau berlakukan di Planet mu, Bumi? Tidakkah aku masih pada orbitku? Bahkan aku pernah mengalahkan kakak kedelapanku Neptune untuk berada pada urutannya. Bukankah itu prestasi yang bagus? Mengapa masih saja kalian buang aku.

Tata Surya seakan sudah ikhlas perlahan melepaskan asa-asa kecil yang mungkin sudah tak pantas untuk mempertahankan aku. Kelabu mungkin atmosfer ku yang sungguh tipis ini hendak menangis. Biarlah, aku tidak apa-apa. Kehilangan sebuah pengakuan tak akan membuat jantung ini berhenti berdetak dan berputar mengitari ibu semesta, Sang Matahari. Seandainya aku bisa memelukmu ibu, mungkin mereka tak akan pernah menyingkirkan aku. Sekarang aku hanya berselimutkan kenangan dan memiliki Charon yang setia. 

Dan mungkin menjadi bagian dari keluarga bintang bukanlah hal buruk, akan tetapi menjadi kenyataan pahit sepanjang sejarah hidupku. Aku terima. Sekarang para bintang atau yang biasa manusia sebut planet kerdil ini adalah saudara yang sangat baik. Mereka menerima ku apa adanya bahkan memelukku saat aku baru saja diusir dari keluarga planet ku. Ya, aku dan Charon sekarang tinggal dalam keluarga kecil ini, mereka selalu gembira dan bercahaya walaupun tidak begitu dianggap oleh manusia. "Bahagia tidaklah harus menjadi besar dan diakui, tapi bagaimana kita bisa bercahaya seterang mungkin meski kecil dan tak dihiraukan" -ucap para bintang.

Terimakasih untuk Clyde Tombaugh, telah mencatat sejarah terindah dalam hidupku. Pesan ini aku dedikasikan untuk mendiang. Aku selalu dan tidak akan lupa bagaimana beliau mengukirnya.


Aku, Pluto (1930-2006)




3 komentar:

  1. Asli. Bagus banget tulisannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah sudi membaca :)

      Hapus
    2. Sama-sama.
      Sekadar saran, mungkin kalau dikasih gambar lebih menarik.
      Oia kalau sempat, mampir ke blog saya ya. ^^

      Hapus